Wednesday, October 15, 2014

Mudik Oktober 2014 Bangunkarta - Gajayana

Aku berangkat hari Kamis, tanggal 9 Oktober 2014. Setelah pulang dari kantor, aku langsung menuju tempat kost untuk ganti baju dan mengambil tas. Pulang kali ini agak dadakan, karena cuti sehari belum di-approve dari kantor, namun karena hendak mengantar isteriku dari Jakarta, aku berniat untuk ijin saja. Setelah selesai berkemas, aku langsung menuju jalan Rasuna, seperti biasa naik P20, turun di perempatan jalan Diponegoro, aku lanjutkan naik bus Mayasari jurusan Ciputat - Senen, turun di Salemba. Aku langsung menjemput isteriku di Wisma Sindoro, sebelum naik taxi ke Gambir, aku sempatkan beli makan malam di warung penyet depan wisma Sindoro. Jarak Salemba - Gambir menghabiskan argo 15.900 untuk taxi Express, namun akun kasih 20.000.

Pukul 06.00 hari Jumat, 10 Oct 2014, kereta Bangunkarta (440K) sampai di Nganjuk, telat hampir 1 jam. Untuk performance PTKAI sudah ga perlu dikomentari, speechless, very-very disappointing, cuma karena ga ada yang lain aja jadinya harus naik KA. Naik bus macet parah, naik pesawat jauh dan mahal, ya akhirnya naik KA deh, ga murah juga, tapi ga parah macetnya. Bukannya mengeluh, namun kenaikan harga tiket dengan kualitas pelayanan ga seimbang. Klo orang Jawa bilang, ga nyucuk.

Kami menyusuri jalan menuju jalan bus, dan naik Kawan Kita sampai Kediri (18.000), disambung Pelita Indah (10.000) sampai Tulungagung, disambung lagi Rukun Jaya (10.000) sampai Durenan, dan disambung lagi colt (22.000) sampai Prigi. Sampailah jam 11.30 di Prigi, pas menjelang Jumatan. Oh ya, selama perjalanan kami tidak mampir kemana-mana, hanya beli oleh-oleh tahu kuning di terminal Kediri dan makan tahu goreng 2000-an di bus Pelita Indah. Aku ajak Ardan untuk sholat Jumat, sedangkan kedua adiknya bersama mama dan nenek-nya di rumah. Sepulang Jumatan, aku langsung makan dengan menu sayur bobor bayam, ikan semar linting, dan sisa-sisa ikan goreng hari kemarin sepertinya. Sangat nikmat, sampai gule daging di kulkas sama sekali tidak tersentuh.

Hari Minggu aku balik ke Jakarta, naik Gajayana (560K) jam 16.10 dari Tulungagung. Tempat duduk lumayan lebih ergonomis daripada Bangunkarta, namun tetap saja cuapekkk banget. Lagi-lagi kereta mahal ini telat nyampe Gambir, jam 05.30 baru nyampe, jadi telat 1 jam, luarrr biasa, kinerja super kinclong dari PJKA. Sepertinya inilah prestasi maximal dari SDM kita, ga mungkin bisa lebih baik lagi, hopeless and speechless. Sangat bangga dengan kerapihan stasiun, tapi kualitas pelayanan masih jauh dari menggembirakan. Wajar bisa untung, kan banyak yang dikorbankan, mata pencaharian pedagang asongan, penggusuran, komersialisasi asset, dan kenaikan harga tiket. Huehehehehe...

Kata Mutiara

“Pernikahan adalah suatu bentuk kerjasama antara suami dan istri untuk mencapai surga.”

Surga, adalah tujuan akhir dari kehidupan umat manusia. Manusia harus mengumpulkan poin yang didapat dari melakukan ibadah dan amal perbuatan. Salah satu sarana untuk mengoptimalkan pengumpulan poin adalah dengan pernikahan. Pernikahan yang sakinah, dilandasi oleh cintah dan keikhlasan akan menjadi lumbung amal bagi anggota keluarga.

“Jangan terlalu posesif terhadap segala milik anda, ingat segala sesuatu adalah milik Allah, namun menjaga dan merawat milik anda merupakan sebuah kewajiban.”

Bagaimana cara menjaga dan merawat segala milik anda? Terhadap harta misalnya, tunaikanlah kewajiban terhadap harta benda, jangan lupa sedekah dan hak anak yatim. Terhadap keluarga, teman misalnya, tunaikanlah kewajiban terhadap keluarga, teman, berilah perhatian kepada mereka.

Bermalam di Wisma Sindoro

Tanggal 6 – 9 Oktober 2014, isteriku ada coaching di UI Salemba. Berdasarkan rekomendasi senior-nya, isteriku menginap di guest house dekat UI Salemba, bernama Wisma Sindoro. Sedangkan teman-temannya menginap di Hotel Atlantik yang juga tidak jauh dari UI Salemba. Tarif per malam di wisma itu, sebesar 300 ribu untuk kamar 2 orang, dan 150 ribu untuk kamar 1 orang. Tempatnya cukup nyaman, serasa menginap di rumah saudara, benar-benar jauh dari kesan menginap di hotel yang serba kaku. Pintu pagar dikunci jam 20.00, jadi kami masing-masing diberi kunci pagar dan kunci masuk rumah. Lucu kan, mana ada kayak gitu klo di hotel. Ada fasilitas dapur, meja makan, dan ruang keluarga jika kita ingin menghabiskan waktu ngobrol bersama teman-teman. Yang pasti, recommended jika ingin mencari suasana yg homy (serasa di rumah) dan kebersamaan bersama keluarga. Selama 3 malam, aku menemani isteriku belajar untuk menghadapi coaching.

Cukup segitu kali ya.

Thursday, September 18, 2014

Mudik September 2014 Bangunkarta

Perjalanan mudik kali ini agak beda dengan rute yang aku lalui sebelumnya. Baru sih ga, cuma agak beda saja. Sebenarnya setiap perjalanan mudik terasa baru, karena ada kesan yang berbeda dari waktu ke waktu. Perubahan sekecil apapun, jika diamati akan menjadi kesan tersendiri kan? Kadang, aku memang sengaja ingin mengambil jalur yang berbeda untuk mendapatkan kesan baru, namun rute ini memang harus aku ambil, justru karena perubahan jadwal perjalanan kereta api. Aku baru bisa naik kereta setelah jam 6 sore, jadilah pilihanku jatuh pada Bangunkarta yang berangkat jam 19.20, karena yang lain berangkat lebih sore lagi.
Hari Kamis, 11 September 2014 aku keluar kantor kira-kira jam 17.40, tidak terlalu tergesa-gesa karena waktu masih longgar. Sesampai di kost, ganti baju, langsung menuju ke jalan Rasuna untuk naik P20. Awalnya mau naik ojek, mengingat bawaan yang cukup berat, namun aku urungkan niat karena waktu masih panjang, jika naik ojek bakalan lama nunggu di stasiun, sangat membosankan. Sesampai di Gambir, aku langsung menuju musholla untuk sholat Maghrib plus Isya. Setelah sholat, aku naik ke lantai 2, menunggu sambil hape. Tidak berapa lama, ada pengumuman Bangunkarta sudah mau ke Gambir, aku segera naik ke lantai 3, ternyata menunggu si Bangunkarta cukup lama juga, sekitar 10 menit dia baru nongol.
Dengan harga tiket 325 ribu pada weekdays, aku mendapatkan gerbong yang dekil, tempat duduk yang ga ergonomis dan ac yang kotor, cuma ada sisi plus-nya, ac-nya ga terlalu dingin. Justru aku suka dengan ac yang tidak terlalu dingin, sehingga selimut yang dibagikan tidak terpakai semalaman. Tapi jujur, not joke, aku memang suka ac yang agak hangat buat tidur. Beberapa kali naik kereta super dingin, sesampai di tujuan, tenggorokan sakit dan badan meriang. Yah kira-kira rate lumayan lah, daripada naik bus hehehehe...
Rencana awal, aku mau turun di Jombang, tetapi di tengah perjalanan aku pertimbangkan lagi untuk turun di Nganjuk, dan akhirnya aku beneran turun di Nganjuk. Dasar Bangunkarta, performance ga banyak berubah, kereta telat cukup parah, hampir 1 jam, sehingga sesampai di Nganjuk sudah terang benderang. Namun lagi-lagi, ini cukup menyenangkan, karena aku tidak terlalu tergesa-gesa untuk sampai ke rumah, kebetulan ada urusan di Kediri. Dengan bawaan yang cukup berat, aku menyusuri jalan di tepian rel menuju ke jalan besar. Rencana-ku mau ke tempat pemberhentian bus yang menuju Kediri. Ketika melewati alun-alun, aku menyempatkan diri mampir ke mesjid Jami, cuci muka, bersih2 dan gosok gigi. Lalu aku lanjutkan perjalanan menyusuri warung Becek (gule kambing), pasar Nganjuk, ternyata cukup jauh jalan baru ketemu halte bus di ujung kota, perjalanan yang cukup jauh. Ga berapa lama, ada bus Kawan Kita. Dengan tarif 7000, sampailah aku di terminal Kediri, pas banget dengan kedatangan isteriku dari Prigi. Lama ga ketemu, terjadilah adegan peluk cium di depan terminal Kediri. Isteriku sampai mengeluh, wah luntur semua ni bedakku hehehe...
Selama di Kediri kami muter-muter dari pagi sampai sore. Agenda pertama, kami langsung menuju Polresta kediri buat memperpanjang sim A dan C isteriku. Proses cukup lancar, kira-kira jam 10.00 sudah kelar. Isteriku tersenyum berseri-seri mendapatkan sim-nya yang baru, ga was2 lagi buat naik motor dan mobil. Setelah cari SIM kelar, kami langsung lanjut agenda kedua, mengurus ibadah haji. Kami langsung menuju Bank Syariah Mandiri yang sekarang ada di sebelah Telkom Kediri. Kira-kira jam 11.00 kami menuju ke Depag, di depan kantor DPRD Kediri. Trus ambil foto di belakang Depag, cuma mahallllllllllllllllll sekali, 130 ribu buat 2 orang. Mungkin jika waktu longgar, mending foto sendiri, edit di Photoshop, jadi deh..., ga nyampe 20 ribu. But, it's OK, semoga jadi amal. Amin. Aku jumatan di mesjid depan Depag. Setelah itu, balik lagi ke BSM, dan balik lagi Depag. Ada 1 yang masih kurang, selembar Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas atau dokter keluarga (buat peserta BPJS). Cari kesana kemari, ternyata Puskesmas dah pada tutup, akhirnya setelah hampir nyerah, isteriku telpon temannya yang juga dokter keluarga kami, dan kami akhirnya mendapatkan selembar surat itu. Begitu semua berkas terkumpul, kami segera titipkan di penjahit Ngronggo, saudara dari petugas haji di Depag, karena waktu sudah pukul 16.00, sementara Depag tutup pukul 15.30. Selesai sudah agenda dan rencana di Kediri. Tinggal capek dan letih. Akhirnya aku muter-muter cari penginapan buat beberapa jam untuk rebahan dan mandi, karena isteriku mau ke Jogja jam 23.00. Budget buat penginapan adalah di bawah 100 ribu, kami dapatkan Hotel Palapa di barat Sri Ratu, dengan tarif 75 ribu, tapi dengan kondisi yang memprihatinkan. Aku ga betah lama-lama di dalam hotel itu, setelah mandi dan rebahan sebentar, kami sudah check out dan memilih untuk tidur di mobil saja. Sebelumnya kami sempatkan cari pecel di Jl Dhoho. Rasanya ga terlalu istimewa, namun cukup mewakili kangen pada nasi campur Kediri (pecel plus tumpang). Cukup lam kami tidur di mobil yang kami parkir di alun-alun Kediri, ga terasa sudah hampir jam 23.00, travel isteriku sudah datang, dan setelah isteriku naik travel, aku segera menuju ke Prigi.

Friday, September 05, 2014

Mudik Lebaran 2014 Citilink

25 Juli 2014 16:00

Sebelumnya aku sudah ijin untuk pulang jam 16.00, ternyata hari ini ada pengumuman dari HRD untuk pulang jam 15.00, alhamdulillah. Untuk mengantisipasi macet, aku berencana naik KRL sampai ke stasiun Cawang, dilanjutkan ke Halim, namun rencana berubah. Salah seorang temanku menawarkan untuk naik ojek kenalannya, yang biasa mangkal di mesjid belakang kantor. Tak lupa, dikasihnya nomor HP si tukang ojek kepadaku. Jam 15.30, aku sudah keluar kantor, langsung mencari tukang ojek di parkirang mesjid, sesuai pesan temanku. Namun, belum ada tanda-tanda tukang ojek yang menunggu disana. Akhirnya aku menuju ATM BCA terdekat, dan cari-cari makanan ta’jil. Setelah selesai, aku menuju lagi ke parkiran mesjid, dan tukang ojek sudah ada disana. Langsung berangkat, lewat Jll Gatot Subroto. Ternyata lalu lintas ga terlalu macet.

Kira-kira pukul 17.00 aku sudah sampai ke bandara Halim, ternyata benar-benar ga jauh dari Cawang, jika susasana lalu lintas normal. Setelah melihat-lihat sekitar, aku segera menuju ke mesjid bandara yang cukup megah, menunggu sampai waktu buka tiba. Tak lupa, aku mengikuti acara buka bersama yang disediakan oleh takmir mesjid. Hidangan buka yang cukup sederhana, jika dibandingkan dengan mesjid-mesjid di daerah Karet, Setiabudi. 3 buah kurma dan segelas teh hangat. Yah, lumayan, buat mengganjal perut mengingat aku sama sekali ga bawa bekal. Ga sampai ikut jamaah Maghrib, aku langsung menuju ke boarding, karena hujan sudah mulai turun. Akhirnya aku sholat Maghrib di ruangan boarding. Menunggu ga terlalu lama, kami dipanggil untuk masuk ke pesawat Citilink tujuan Surabaya, tepat waktu banget.

Sekitar pukul 20.00 aku sampai di Juanda. Segera aku menuju pool Damri yang menuju ke Bungurasih. Tak lupa aku kirim pesan kepada istriku agar menuju ke Bungur juga. Sesampai di Bungur, aku segera menuju warung soto daging (15 ribu plus teh manis) di pintu masuk Ramayana, terus karena belum kenyang juga, aku teruskan makan bakso (8 ribu tanpa minum) di depan Bungur. Selesai makan, kami langsung menuju pemberangkatan bus ke Tulungagung. Kami pilih bus Pelita Indah Ekonomi AC langsung Nggalek.

Tuesday, May 20, 2014

Mudik Liburan Waisak 2014 Matarmaja - Majapahit

Perjalanan Mudik
14 Mei 2014 12:00

Hari ini, Rabu, 14 Mei 2014, aku cuti setengah hari. Kira-kira 2 bulan sebelumnya aku sudah rencana untuk pulang mudik pada tanggal 14 Mei. Meski pada bulan Mei banyak hari kejepit, tanggal 14 Mei dan minggu terakhir di bulan Mei. Rupanya pilihanku di tanggal 14 Mei tepat, karena pada akhir bulan Mei aku ga bisa pulang, di kantor lagi sibuk mengerjakan proyek. Dan kenapa aku beli tiket Matarmaja dan Majapahit, karena aku juga tidak bisa yakin bisa pulang tanggal tersebut, sehingga tidak terlalu rugi jika harus di-cancel. Tau sendiri kan, biaya cancel sekarang 25% dari harga tiket. Jadi cukup gede jika harus meng-cancel tiket Gajayana yang waktu itu sudah bertengger di angka 525 ribu. Akhirnya beli lah aku tiket Matarmaja 65 ribu untuk mudik dan Majapahit 240 ribu untuk balik. Waktu istirahat makan siang, aku langsung bergegas pulang ke kost. Tidak kuhiraukan ajakan temen-temen untuk makan bareng di Bakmi Bangka Lorong. Sesudah ganti baju yang lebih pas buat di kereta, aku langsung menuju jalan Rasuna Said, buat nyetop P20. Cukup lama aku menunggu kira-kira 15 menit. Ketika ada ojeg lewat, aku hampir nyerah buat minta nganterin dia ke Pasar Senen, ga lama kemudian lewat-lah P20 yang kutunggu-tunggu. Untung ga terlalu penuh, sehingga aku dapat tempat duduk. Sesampai di perempatan Jl. Diponegoro macetnya parah banget, namun aku lirik jam kayaknya masih agak lama, jadi aku masih tenang. Singkat kata, sampailah di Pasar Senen jam 13.00, jadi masih ada waktu 40 menit lagi. Karena waktu masih lama, aku mencari makan di Pasar Senen yang digelar di jalan raya. Aku pikir di pasar lebih murah daripada di warung-warung deket kantor, ternyata nasi ayam sama sayur harus aku tebus 15 ribu, dimana dengan menu yang sama hanya seharga 12 ribu di belakang kantor. Cukup sekali lah, buat pelajaran. Setelah dapat makan, aku langsung masuk ke dalam stasiun, makan nasi yang baru aku beli dan langsung sholat Jamak Qashar Dhuhur – Ashar.

14 Mei 2014 13:40

Tepat sesuai jadwal, kereta berangkat. Suasana kereta tidak terlalu penuh, padahal ini termasuk libur yang cukup panjang jika ditambah hari kejepit, bahkan bangku di sebelahku, dan 1 bangku di depanku kosong. Kebanyakan kereta diisi oleh anak-anak muda yang bawa tas besar dan dilihat dari bajunya, mereka adalah para pecinta alam. Karena banyak anak mudah, suasana kereta jadi ramai, meski tidak terlalu penuh. Ada yang main kartu, nonton film di hp, main game di ipad, telpon berjam-jam, dan ngobrol ngalor ngidul. Hal yang menarik adalah petugas reska bolak-bolak nawarin nasi goreng, seakan-akan tidak ada makanan lain. Namun, karena aku hanya membawa air refil dari kost, akhirnya aku beli Club botol besar pada petugas reska seharga 8000, dimana diluar maximal kira-kira 5000 saja. Efek dari tidak adanya asongan sungguh luar biasa. Suhu udara cukup dingin berkat 6 buah AC split, bahkan menjelang sore aku sudah mengenakan jaket karena kedinginan. Hal yang benar-benar belum berubah adalah kursi yang sangat keras dan toilet yang sangat bau.

14 Mei 2014 16:50

Sampailah kereta di stasiun Cirebon Prujakan. Kereta berhenti kira-kira 10 menit di stasiun ini. Pada jaman dulu, stasiun ini terkenal dengan pedagang-pedagang makanan dan souvenir yang murah-murah (dibandingkan dengan stasiun di Jakarta). Pada saat itu, hampir setiap kali aku menyempatkan diri beli makanan di stasiun ini pada asongan yang lewat. Meski tidak terlalu enak, namun lebih bernilai daripada beli di reska. Jadi kebiasaan itu aku teruskan lagi, namun aku tidak beli di asongan, namun ke satu-satunya warung nasi yang ada disitu. Sepertinya mereka sudah siap menghadapai orang-orang yang kelaparan seperti aku, jadi mereka sudah menyediakan beberapa paket, yaitu nasi rames 7000, nasi telur 10.000, nasi daging 15.000, nasi ayam 16.000. Akhirnya aku putuskan beli nasi telur seharga 10.000. Setelah kereta berangkat, aku segera membuka paket “nasi telur 10.000”, dan betapa kagetnya ketika isinya nasi putih 1 kepal, sayur timun wortel, dan 1 butir telur rebus masih utuh. Hmmm… akhirnya aku makan sambil membayangkan betapa sehatnya makan nasi plus sayur, dan telurnya hanya aku cuil sedikit setelah itu aku buang bersama dengan bungkus-nya yang cukup bagus. Sekali lagi, dapat pelajaran lagi, jangan diulang beli nasi atau apapun di stasin Cirebon Prujakan. Pelajaran berikutnya, jika pergi naik kereta api, siapkan bekal konsumsi secukupnya, agar tidak usah beli makanan selama di perjalanan, terutama di wilayah Jawa Barat. Karena untuk wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, harga makanan relatif lebih “normal”.

14 Mei 2014 20:30

Sampailah kereta di stasiun Semarang Poncol. Aku langsung menuju toliet di stasiun untuk buang air kecil dan membasuh muka. Perutku masih kelaparan, gara-gara nasi sekepal di Cirebon, tengok kanan-kiri ga ada orang jualan makanan. Aku bertanya ke security, berapa lama kereta berhenti disini, dan dijawab sekitar 40 menit. Karena cukup lama, aku segera menuju keluar stasiun, di depan cukup banyak warung-warung penjual makanan. Bahkan, aku sudah pernah mencoba 2 buah warung disini, dan pada malam itu aku menuju salah satu warung yang terakhir aku kunjungi. Ada bakwan dan tahu isi dengan ukuran jumbo, ternyata harganya cukup 1000 rupiah, aku langsung beli 5. Sayang sekali sudah dingin dan oily banget, namun benar-benar bikin lidah goyang dan perut kenyang. Ya itulah makanan di Jateng & Jatim, nikmat dan terjangkau.

15 Mei 2014 04:00

Sampailah kereta di stasiun Tulungagung. Perjalanan dari Semarang ke Tulungagung tidak banyak yang bisa kuceritakan karena aku lebih banyak tertidur selama di perjalanan. Keluar dari stasiun hari masih gelap, bahkan adzan Subuh belum berkumandang. Aku langsung berjalan kaki menuju ke terminal Tulungagung. Cukup jauh, namun lumayan buat melemaskan otot-otot setelah duduk berjam-jam.

15 Mei 2014 04:30

Sampailah aku di terminal Tulungagung. Ada kejadian menarik, aku bertanya pada seseorang, “Pak, bus ke Trenggalek ada ga?”, trus dia bilang “Wah, lagi ada demo mas, ga ada bus ke Trenggalek”. Untuk aku ga percaya, karena di sebelah barat ada Harapun Baru sedang ngetem. Akhirnya aku naik bus itu, ga beberapa lama kemudian langsung berangkat. Tulungagung – Durenan aku tebus dengan 3000 perak.

15 Mei 2014 05:00

Sampailah aku di terminal Durenan. Disitu sudah menunggu angkutan menuju ke Prigi. Ternyata di dalamnya sudah banyak pedagang-pedagang yang mau jualan di pasar Bandung, Sebo, dan Prigi. Jadi angkutan juga langsung berangkat. Durenan – Prigi aku tebus dengan 12.000 rupiah.

15 Mei 2014 06:00

Sampailah aku di rumah Prigi. Sesampai di rumah, aku langsung mandi dan sarapan. Ngobrol sebentar dengan orang tua dan keluarga. Hari itu rencana aku akan mengajak anak-anak main ke Alun Alun Tulungagung dan membelikan mereka celana panjang, karena celana mereka sudah habis.
Selama di rumah orang tua, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sesuai rencana, sekitar jam 11.00 kami berangkat ke Tulungagung, sekalian mengantarkan mama ke terminal untuk pulang ke Surabaya. Perjalanan sangat santai, pelan karena untuk mengantisipasi agar Revan tidak mabuk. Sekitar jam 13.00 kami sampai di Tulungagung, langsung menuju ke Harmoni untuk membelikan anak-anak celana panjang. Tidak lama memilih, akhirnya sudah kami dapatkan celana panjang buat anak-anak. Aku tidak lupa beli sepotong kemeja Alisan, karena harganya yang cukup miring, cuma 87.500 perak. Setelah selesai di Harmoni, kami mengajak anak-anak ke alun-alun, karena memang mereka ingin main scooter.

Perjalanan Balik
18 Mei 2014 14:30

Aku berangkat dari rumah Prigi naik sepeda motor ke Durenan. Rencananya sepeda motor aku titipkan di penitipan motor Durenan, dan malamnya akan diambil oleh bapak yang pulang dari Malang. Perjalanan Prigi – Durenan cukup ramai, namun masih lancar. Karena harpitnas, lumayan banyak mobil yang tamasya ke Prigi, bahkan sempat ketemu bus beberapa kali.

18 Mei 2014 15:30

Aku sampai di Durenan. Sepeda motor langsung aku titipkan ke tempat penitipan motor. Aku langsung menuju ke tempat pemberhentian bus di dekat pertigaan Durenan. Kira-kira 10 menit kemudian, datanglah bus Harapan Jaya AC Ekonomi yang penuh sesak. Aku paksakan naik meski tidak dapat tempat duduk.

18 Mei 2014 16:00

Sampailah aku di terminal Tulungagung. Aku bergegas jalan ke depan untuk mencari ojek. Sebelumnya aku biasa naik becak, namun kapok setelah beberapa kali mendapat kesan kurang enak dari tukang becak. Aku pikir tarif 10 ribu sudah cukup untuk terminal – stasiun, namun mereka minta 15 ribu. Sambil berjalan ke depan, ada seorang tukang ojek yang nawarin ke stasiun 10 ribu. Iseng-iseng aku tawar 5 ribu, akhirnya deal dengan tarif 7 ribu. Lumayan lah… Kira-kira 5 menit perjalanan ojek sampailah ke stasiun Tulungagung, namun aku belum bisa masuk, karena sedang ada bongkar muat kereta api Rapih Dhoho. Di dalam stasiun aku sempatkan sholat Ashar karena dari rumah belum aku jamak.

18 Mei 2014 16:25

Kereta Majapahit datang tepat sesuai dengan jadwal yang tertera. Tempat duduk 17A di Gerbong 2 rupanya masih kosong. Karena lapar dan hari sudah sore, aku langsung makan nasi bungkus ayam goreng, sambal goreng tempe, dan oseng pare yang aku bawa dari rumah. Setelah makan, aku langsung tidur, dan jarang bangun hingga sampai ke Jakarta. Mungkin karena capek, atau AC-nya yang nyaman menurutku. Pas banget, ga seperti Gajayana atau Matarmaja. Orang di sebelahku naik dari Kediri, dan waktu malam dia tidur selonjoran di bawah.

19 Mei 2014 05:30

Sampailah kereta api di stasiun Pasar Senen. Terlambat setengah jam dari jadwal di tiket. Yah lumayan lah, daripada terlambat 2 jam seperti sebelum-sebelumnya.

Tuesday, May 13, 2014

Mudik Idul Adha 2014 H

Kali ini ada sesuatu yang cukup istimewa dengan perjalan mudik Idul Adha. Karena tidak mendapatkan tiket Gajayana, aku mudik dengan estafet menggunakan sepur dan bus. Kisah perjalanan aku bagi menjadi 2 bagian, yaitu Kisah Perjalanan Mudik dan Kisah Perjalanan Balik.

Kisah Perjalanan Mudik

Mudik kali ini aku lakukan pada tanggal 10 Oktober 2014, tepatnya jam 19.30 aku keluar dari kost. Teman-teman kost yang pada nonton TV pada teriak “jangan lupa bawa gethuk pisang ya”. “Kayaknya ga mungkin deh aku bawa gethuk pisang, secara aku tidak akan ke Kediri”, begitu gumamku dalam hati. Namun aku tetap menjawab “ya, beres”.

Sambil membawa tas yang lumayan berat, berisi Bio Janna dan habbah untuk keluargaku tercinta, aku menyusuri jalanan Setiabudi menuju jalan Rasuna Said untuk menumpang P20. Teriakan tukang ojek tak kuhiraukan, toh waktu masih sangat lama. Di tengah perjalanan, tak lupa aku mengisi perut dulu dengan makan soto Kudus (nulisnya sih soto Lamongan), yang kutebus dengan 10 ribu plus 1 buah krupuk uyel. Belakangan aku baru tahu klo plus 1 atau 2 krupuk uyel tetap 10 ribu, ternyata uang 1000 benar-benar sudah tidak dihargai sekarang. Kira-kira pukul 20.00 aku sudah berdiri di pinggir jalan Rasuna Said, namun P20 yang kutunggu ga nongol-nongol juga, bolak balik yang lewat P66. Khas banget syndrom angkutan umum, jika tidak ditunggu nongol, jika ditunggu ga nongol-nongol. Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya P20 datang juga dalam kondisi lumayan penuh.

Kembali ke Jakarta

Judul lengkapnya seharusnya adalah “Kembali ke Jakarta dengan Gajayana”. Hari Minggu, 31 Maret 2013, aku kembali ke Jakarta lewat Tulungagung. Liburan 3 hari di Prigi terasa begitu singkat, meski tidak ada acara kemana-mana, hanya di rumah dan 2 kali ngajak main anak-anak ke Pantai Prigi.

Suasana Prigi masih seperti dulu, sejuk, segar, dan sepi, apalagi saat itu tidak musim panen ikan. Meski hutan sudah berubah fungsi menjadi tegalan, namun suasana kesegaran desa masih terasa, jika dibandingkan dengan kesegaran udara ibukota dan Surabaya. Jika dibandingkan dengan kesegaran udara waktu aku masih kecil dulu (tahun 80-an), tentu jauh berbeda.

Prigi memiliki beberapa makanan khas yang jarang ditemui di tempat lain. Salah satu-nya adalah sompil. Sompil menyerupai lontong sayur jika di Jakarta, namun dengan citarasa yang jauh berbeda. Sayur blendrang (dimasak beberapa hari), plus irisan singkong goreng, dengan kuah santan yang pedas, manis menjadikan sompil di Prigi sangat khas, tidak bisa ditemukan di tempat lain. Entah darimana asal usul sompil ini. Padahal pada menu sehari-hari, bumbu dengan citarasa manis pedas yang dipakai di sompil ini tidak pernah ditemukan di menu rumahan masyarakat Prigi. Pada saat musim ikan, sayurnya kadang-kadang dicampur juga dengan ikan ilaran (ikan asap), tentu tambah nikmat, ada nuansa gurih-nya. Kekhasan sompil ditambah dengan bungkusnya yang berupa daun jati dilapisi dengan daun pisang.

Masyarakat Prigi sudah terbiasa menyantap sompil sebagai menu sarapan, karena memang dijualnya hanya pada pagi hari di pasar rakyat. Namun seiring dengan tuntutan masyarakat yang semakin dinamis, sompil telah dijual di warung-warung selama hampir 24 jam. Mungkin nilai negatif-nya, ini akan merusak budaya tata cara makan sompil. Cieee…, sok resmi hanya untuk makan sompil. Namun, ya itulah sebenarnya, bahwa sompil pada jaman dahulu hanya sebagai menu sarapan. Sama seperti menjamurnya warung lodo, yang dahulu hanya muncul pada waktu slametan.

Sunday, February 09, 2014

Kamar

Kamar adalah sesuatu yang sangat penting bagi sebagian besar orang. Kamar merupakan dunia kecil, ruangan paling privat. Dari kata kamar muncul istilah baru, seperti 'ngamar' yang kadang berkonotasi negatif.

Di dalam kamar, orang bisa melakukan apa saja yang paling privat. Seperti berdoa, semedi, tidur, dll. Hanya Tuhan dan mungkin makhluk halus yang tahu apa yang dilakukan di dalam kamar.

Dari kamar juga bisa ditebak kepribadian seseorang. Jika kamarnya kacau, awut-awutan maka begitulah suasana hatinya.

Friday, August 23, 2013

Daily 7 Habits

Jika Anda ingin perubahan kecil, ubah perilaku Anda; jika Anda ingin perubahan bak lompatan kuantum, ubah paradigma Anda. (Stephen R. Covey)

Case 1

Saya bekerja dalam sebuah organisasi IT support yang menangani beberapa aplikasi yang dipakai oleh sebuah perusahaan. Masing-masing aplikasi dipakai oleh beberapa orang user dalam lintas organisasi. Tugas utama kami adalah memastikan aplikasi bisa dioperasionalkan dengan baik, mirip seperti tukang service motor. Kami juga menangani perubahan-perubahan kecil yang diinginkan oleh user. Jadi asumsi dan harapan kami bahwa selama aplikasi tidak bermasalah, maka mereka tidak usah menghubungi kami, kecuali sekali-sekali mereka ingin malakukan perubah kecil itupun dengan skala prioritas yang rendah.

Masalah, ada 1 organsasi, kita sebut A, yang sangat sering minta perubahan-perubahan dalam aplikasinya, sehingga kami sampai keteteran untuk memenuhi permintaan mereka.

Perubahan perilaku, kami akhirnya harus datang lebih pagi, pulang lebih malam untuk bisa menyelesaikan permintaan user A.

Perubahan paradigma, kami mundur ke belakang, mencoba melihat dari sisi lain, sebenarnya apa maksud dari permintaan user A yang terus menerus. Pada waktu tertentu kami mengajak diskusi mereka, mengapa mereka melakukan perubahan terus menerus padahal organisasi lain cukup jarang melakukan perubahan. Beberapa hal adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan merupakan suatu inovasi yang menjadi point penting dalam penilaian kinerja mereka.
  2. Permintaan yang dimunculkan sekarang merupakan permintaan lama yang dahulu tidak dikabulkan.
  3. Ada tuntutan dari pihak management untuk melakukan perubahan.
  4. Ada tuntutan dari pihat ketiga (misal: auditor) untuk melakukan perubahan.

Pada point ke-3 dan ke-4 adalah suatu hal keharusan, sedangkan point ke-1 dan ke-2 adalah hal yang bisa di-pending. Akhirnya saya bisa memahami sudut pandang mereka dan hanya bisa pasrah. He… he… he…

Friday, August 16, 2013

Mudik Lebaran 2013 Masehi

Perjalanan Mudik

Sudah sejak 3 bulan yang lalu, aku memesan tiket mudik untuk tanggal 2 Agustus 2013. Bangun pagi-pagi mengharapkan tiket Gayajana, namun ketika membuka website reservasi KAI kira-kira jam 05.00 tiket Gajayana sudah habis. Hanya tersisa tiket Majapahit, kelas ekonomi AC dengan harga 300 ribu dengan keberangkatan pada tanggal 2 Agustus pukul 15.15. Pada saat itu harga tiket Gajayana 600 ribu. Sebenarnya pada waktu itu masih ada tiket Matarmaja dengan harga kurang lebih 150 ribu (lupa-lupa inget). Dengan jam keberangkatan nanggung itu, aku bakalan harus cuti setengah hari.

Pada tanggal 2 Agustus hari Jumat, dalam suasana bulan Ramadhan yang sangat indah, aku pulang kantor jam 11.30. Ternyata sampai perjalanan pulang, Jumatan belum dimulai, sehingga aku masih sempat pulang ke kost untuk ganti sandal dan wudhu, akhirnya Jumatan di mesjid dekat kost. Nyaman sekali bisa Jumatan di dekat kost, tempatnya longgar, suasananya sangat hommy (serasa di rumah sendiri), beda sekali dengan suasana Jumatan di mesjid dekat kantor, sangat sumpek, tergesa-gesa, sehingga kurang terasa khusyu.

Setelah Jumatan aku segera berkemas-kemas, langsung menuju jalan raya untuk naik P20 menuju ke Senen. Meski dengan beban yang berat, namun tetap semangat, karena keinginan untuk bertemu dengan keluarga di kampung halaman. Mampir dulu ke Atrium untuk beli mamin (makanan minuman) dan sebuah dompet mungil di Pasar Senen seharga 35 ribu. Meski banyak penjual mainan anak-anak, aku tidak menengok sedikitpun, karena mainan anak-anak hanya akan bertahan rata-rata 1 bulan yang akhirnya menjadi sampah, mengotori ruangan. Anak sekarang lebih suka main sejenis iPad dan tablet Android. Jadi daripada untuk membeli mainan-mainan sampah itu, lebih baik ditabung untuk membeli iPad. Betul kan?

Aku menunggu kira-kira 45 menit di stasiun Senen, cukup kaget dengan suasana yang jauh berbeda. Lebih bersih, tertib, dan rapi dibandingkan stasiun Senen masa lalu. Baru aku akui gebrakan IJ ternyata mantap, malah terbilang cukup revolusioner, semoga ke arah yang lebih baik. Karena tujuan akhir dari suatu perubahan adalah peningkatan manfaat buat stakeholder.

Tepat pukul 15.15 kereta Majapahit berangkat. Aku duduk sebangku dengan seorang pemuda Magetan dengan tujuan Madiun. Seperti biasa ngobrol kesana-kemari, dia bilang kereta Majapahit telat 1 jam sudah biasa. Hmmm… ternyata tidak berubah dari dulu yang namanya masih Senja Kediri, ngaret sampai 2 jam juga sudah biasa. Jadi, buat rekan-rekan yang butuh ketepatan dengan toleransi 0.5 jam, jangan sekali-sekali naik kereta api Majapahit, sangat sangat sangat tidak disarankan. Tingkat keterlambatannya bahkan melebihi angkutan bus yang biasa terlambat karena macet atau ngetem. Parah deh pokoknya, dan aku rasa ini bukan cuma pas Lebaran saja, namun hampir setiap hari mengalami keterlambatan ini. Pada saat buka puasa, sudah hampir sampai Cirebon, aku minum juice kacang hijau ABC dan air putih. Ketika kereta berhenti di stasiun Prujakan, hampir semua penumpang menyerbu kantin stasiun. Aku mendapatkan empal gentong dengan harga 13 ribu, sungguh lezat di suasana saat itu. Rasanya mirip sekali dengan gulai kambing khas Trenggalek. Makan sahur di stasiun Madiun dengan menu sego pecel pincuk kira-kira pukul 03.30.

Kira-kira pukul 06.00 kereta sampai stasiun Tulungangung, dengan rekor telat 1.5 jam. Ruarrr biasa. Klo menurutku seharusnya inilah yang seharusnya menjadi prioritas pak IJ, ketepatan waktu, agar bisa bersaing dengan moda transportasi yang lain. Dengan langkah gontai, karena kecapekan, aku telpon ibu apakah dijemput atau tidak. Ternyata aku akan dijemput bareng dengan istriku dari Surabaya nanti jam 10.00. Wah, masih lama banget. Akhirnya diputuskan aku akan menunggu di mesjid Alun-Alun Tulungagung yang sangat nyaman dan bersih. Di mesjid tersebut, aku sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang takmir sampai bapak, ibu, dan Revan datang menjemputku. Ardan rupanya masih sekolah sehingga tidak bisa menjemput. Kami langsung menuju terminal bus untuk menjemput istriku dan Varen. Setelah semua naik mobil, kami belanja barang-barang rumah tangga dulu di Weringin. Saat itu cuaca sangat menyengat di Tulungagung, membuat tak sabar ingin segera pulang. Setelah selesai belanja, kami langsung menuju Bandung, lewat Campurdarat. Di Bandung, berhenti lagi untuk belanja dan sekalian sholat Dhuhur. Selesai belanja, kami langsung pulang ke Prigi.

Perjalanan ke Malang

Tanggal 7 Agustus 2013 kami sekeluarga mudik ke Malang dari Prigi dengan menggunakan jasa travel Sinar Jaya. Jam 08.00 kami sekeluarga berangkat dari Prigi diantar oleh bapak sampai Durenan. Sampai di Bandung, sopir travel sudah telpon kalau mereka sudah ada di Durenan. Kami berangkat dari Durenan dengan penumpang cuma 1 orang soko Ponorogo plus keluargaku, jadi bener-bener longgar. Harga per orang 65K dan kondisi mobilnya sangat sesuai dengan harganya. Sebuah Isuzu Elf tua warna biru, tanpa AC, jok oscar kaku usang, tanpa music, dan berdebu, mirip dengan angkutan pedesaan Durenan – Prigi dengan kelebihan reclining seat. Meski dengan segala keterbatasan, namun perjalanan tetap aku nikmati. Dalam perjalanan antara Tulungagung – Blitar, anakku yang nomor 2 mulai mabuk, mungkin kondisi yang kurang nyaman, sedangkan 2 anakku yang lain tidur dengan nyenyak. Selama perjalanan, aku juga lebih banyak tidur, keadaan yang longgar, mobil yang kurang nyaman jadi alasan untuk malas membuka mata. Jalanan sangat sepi, sehingga kami bisa sampai di rumah mertua pada pukul 13.00, lumayan cepat padahal sempat berhenti cukup lama di Blitar.

Selama di Malang, kegiatan lebih banyak di rumah, padahal malam itu merupakan malam Idul Fitri, yang biasanya sangat ramai di jalan-jalan dan mesjid. Pada malam Idul Fitri, di rumah sangat sepi, adik iparku sama mertuaku jalan-jalan keluar, sedangkan aku dan keluarga di rumah. Setelah sholat Maghrib di mesjid AL deket rumah, aku jalan-jalan untuk mencari udara segar dan mencari makanan kecil semacam mie pangsit. Susah sekali menemukan penjual makanan, ketemu soto ayam namun malas karena sudah agak bosan dengan menu soto, akhirnya ketemulah warung tahu telor. Tahu telor plus lontong seharga 8000 segera berpindah ke perutku. Lumayan untuk camilan malam hari raya dan sekedar mengobati rasa ingin mencoba makanan di tanah Malang.  Selama di Malang, udara sangat dingin, sehingga aku tidak pernah mandi, hanya membersihkan muka dan sikat gigi. Mungkin ini suatu rekor, selama 2 hari 2 malam tidak mandi.

Tanggal 8 Agustus 2013 kami sholat Idul Fitri di lapangan pangkalan AL di deket rumah. Aku sudah sering sekali ke Malang, namun baru kali ini bisa masuk ke dalam kompleks AL. Sholat Idul Fitri dilakukan di lapangan tennis yang telah dialasi tikar dan karpet. Ketika kami datang ke lokasi, sholat Ied sudah hampir dimulai, aku duduk bersama dengan Ardan dan Revan, sedangkan Varen bareng sama mama-nya. Khotib menyampaikan khotbah dengan singkat, padat, dan jelas. Tidak ada acara salam-salaman seperti yang biasa aku lakukan di Prigi.

Setelah selesai sholat, kami dan sebagian besar jamaah menyempatkan diri untuk menikmati taman di dalam pangkalan AL. Ada kolam renang dan kolam ikan yang cukup besar. Yang cukup menarik, di sekeliling kolam ikan itu berdiri patung prajurit, mortir bekas, dan selongsong bom. Beberapa jamaah tidak lupa mendokumentasikan aktivitasnya, sedangkan aku lupa tidak melakukannya.

Tanggal 9 Agustus 2013 kami sekeluarga balik lagi ke Prigi dengan menumpang mobil dik Vano. Pada mulanya kami akan menumpang travel, namun tidak jadi. Karena melakukan pembatalan mendadak, kami didenda 50% dari tarif normal, sekitar 130 ribu rupiah. Kami berangkat sekitar jam 10, mampir dulu ke toko oleh-oleh untuk beli tempe kripik. Di perjalanan menuju Kepanjen, kami membeli dulu klengkeng dengan harga 35 ribu per kilo. Mahal bangettt ya. Jalanan sangat ramai, sehingga pukul 13.00 lepas dari Kepanjen, kami baru sampai di Durenan sekitar pukul 17.00.

Balik ke Jakarta

Akhirnya tibalah waktu balik ke Jakarta dengan menumpang kereta api Majapahit pada tanggal 14 Agustus 2013 pukul 16.26. Tak lupa membawa bekal nasi iwak rengis dan beberapa bungkus jajan hari raya. Sampai di Jakarta tepat pukul 08.10, padahal sesuai jadwal di tiket pukul 05.30, jadi telat 2.5 jam lebih. Ruarrrrrrrrrrrrrr biasa. Kesimpulan dari cerita ini adalah sangat tidak direkomendasikan naik kereta api Majapahit kecuali sangat terpaksa. Jika ingin menghemat lebih baik naik Matarmaja sekalian atau Gajayana. Ini kereta sangat nanggung, tidak layak untuk dijadikan pilihan perjalanan.

Saturday, March 24, 2012

Perjalanan ke Surabaya

Kamis, 15 Maret 2012, pukul 16.00 aku berangkat dari Pulogadung menuju ke Kudus, dengan bus Bejeu dengan tarif 90 ribu. Kondisi bus terisi kira-kira 70%. Aku duduk di kursi tengah. Sepanjang perjalanan aku merasa tidak nyaman, badan capek, pegal karena AC-nya sangat dingin.

Pukul 03.00 aku sampai di terminal Kudus. Suasana masih sangat sepi.

Pukul 04.00 aku menuju ke Surabaya dengan bus Indonesia dengan tarif 33.000.

Pukul 11.00 samai di terminal Bungurasih. Setelah membayar parkir 7000, aku langsung pulang ke rumah.

Perjalanan ke Jakarta

Rabu, 14 Maret 2012, pukul 10.20 aku berangkat ke Semarang dengan bus patas Sinar Mandiri Mulia. Tarif bus ini adalah 50 ribu tanpa makan, jadi sebetulnya lebih mahal dari bus Jaya Utama. Hal yang membuat bis ini kurang nyaman adalah setelah AC-nya yang sangat dingin. Selain itu bus ini juga sering menaikkan penumpang, persis seperti bus ekonomi AC.

Sekitar pukul 14.20, bus mampir di rumah makan Pantura Ria di perbatasan Jatim – Jateng. Aku tidak makan, hanya menunaikan sholat Dhuhur.

Pukul 17.00, bus sampai di terminal Kudus. Aku langsung mencari tiket, dan akhirnya dapet bus Budi Jaya dengan harga 85 ribu. Setelah membayar tiket, aku segera mencari makan di dekat terminal. Ketemu-lah sebuah warung kecil yang menjual aneka macam masakan khas Kudus. Aku memesan soto ayam, yang ternyata rasanya maknyusss, apalagi dengan harga 5000 sudah plus teh manis.

Pukul 18.00, bus Budi Jaya berangkat dari terminal Kudus. Ternyata kondisi bus sungguh mengecewakan, tidak ada selimut, kursi yang kurang ergonomis, dan jumlah kursi yang banyak, tidak seperti bus-bus yang lain.

Pukul 08.30, bus baru sampai di Pulogadung, setelah sebelumnya mampir dulu ke Lebakbulus. Sungguh lama sekali perjalanannya, apalagi dengan kondisi kursi yang kurang nyaman, membuat capek di badan.

Perjalanan ke Surabaya

Kamis, 8 Maret, 2012 pukul 21.30 aku berangkat menuju Semarang dengan kereta api Tawang Jaya. Aku duduk di bangku yang ditempati 3 orang, namun hanya ditempati 2 orang. Jadi kondisi kereta tidak terlalu penuh, beberapa kursi lain juga kosong. Aku baru pertama kali ini naik kereta api ini. Suasana kereta tidak terlalu penuh, mengingatkanku pada kereta api ekonomi masa-masa kuliah dulu, kosong melompong, sampai bisa selonjoran di kursi.

Jumat, 9 Maret 2012, pukul 06.30 kereta tiba di stasiun Poncol Semarang. Suasana kota Semarang waktu itu cukup cerah. Setelah menunaikan sholat Subuh dan membersihkan diri di toilet, aku langsung keluar hendak mencari sarapan dan menuju ke terminal Terboyo. Di depan stasiun, ternyata ada warung kecil yang cukup ramai. Aku langsung menuju kesitu, setelah menunggu beberapa waktu karena penuh. Ternyata memang citarasa masakannya cukup enak, apalagi teh-nya, terasa banget, nendang rasanya, pantes ramai.

Pukul 08.00, aku meninggalkan terminal Terboyo dengan bus Indonesia. Tidak ada yang istimewa dengan perjalanan ini. Seperti biasanya, bus Surabaya Semarang berjalan dengan santai dan beberapa kali ngetem di tempat yang tidak pasti dalam waktu yang cukup lama.

Pukul 02.00, aku tiba di terminal Bungurasih. Setelah membayar 6000 ribu di tempat parkir sepeda motor, aku langsung menuju ke rumah.

Perjalanan ke Jakarta

Rabu, 7 Maret 2012, pukul 10.00 aku berangkat menuju terminal Bungurasih. Setelah membeli kue bika dan pukis, mengisi pulsa, dan mampir ke ATM, motor segera kutitipkan di penitipan sepeda dekat terminal. Setelah berjalan kira-kira 5 menit, aku langsung menuju pemberangkatan bus patas menuju Semarang.

Pukul 10.40, bus patas Jaya Utama segera berangkat dari terminal Bungurasih. Kondisi bus tidak terlalu penuh. Setelah membayar ongkos 55 ribu, aku segera terlelap. Bus mampir sebentar di rumah makan setelah kota Tuban. Lalu lintas pada saat itu tidak terlalu ramai, namun macet cukup lama di daerah sebelum Juwana.

Pukul 17.20, bus sampai di terminal Kudus. Aku segera mencari tiket untuk menuju Pulogadung. Target pertama adalah bus Bejeu, namun sudah habis. Akhirnya aku dapat bus Haryanto, dengan harga 90 ribu setelah melalui proses tawar menawar. Dengan harga segitu, aku dapat kursi nomor 2 dari belakang. Kondisi bus kurang nyaman, air toilet-nya kotor, dan banyak debu. Selain itu, aku juga agak curiga, karena beberapa kali mekanik memeriksa kondisi mesin bus. Namun karena sudah membayar dan perjalanan-ku juga tidak terlalu tergesa-gesa, aku cuek aja.

Setelah pengalaman naik bus malam, ternyata memang yang enak adalah kursi belakang atau depan sekalian. Kursi tengah memang nyaman secara suspensi, namun secara udara ventilasi sangat kurang nyaman, karena terlalu banyak angin yang lewat. Begitu naik, aku juga langsung terlelap, terbangun ketika bus istirahat untuk makan malam di daerah Batang.

Pada pukul 01.00-an, bus berhenti lama sekali di sebuah pangkalan truk, masih di daerah Jawa Tengah. Rupanya bus mengalami kerusakan. Setelah menunggu lama sekali, seluruh penumpang dialihkan ke bus Safari Darma Raya yang kondisinya jauh lebih parah. Diantara sekian banyak penumpang, tidak ada yang komplain dengan kondisi itu. Jadi penumpang yang kebanyakan masih muda itu, sangat kooperatif.

Pada pukul 11.00, bus sampai di Jakarta. Aku turun di depan halte Gudang Garam, Cempaka Putih. Saat itu tujuanku ke stasiun Senen untuk membersihkan badan dan mencari tiket kereta api untuk balik. Sesampai di Senen, aku mencari tiket dulu, dan akhirnya dapet Tawang Jaya. Kereta api jurusan Solo, Jakarta, Malang sudah habis semua.

Saturday, February 25, 2012

Kopi Jahe

Artikel berikut adalah kumpulan resep mengenai cara pembuatan kopi jahe dari berbagai sumber. Semua resep belum pernah saya coba, hanya merupakan referensi.

Semua resep hampir sama, penanganan utama adalah pada jahe. Jahe sebaiknya dibakar dulu, kemudikan dimemarkan. Setelah itu, jahe direbus bersama-sama dengan bahan lain yang cukup variatif, bisa berupa daun pandan, cengkeh, serai, kayu manis. Nah, air rebusan jahe dan bahan-bahan lain ini yang digunakan sebagai air kopi.

Monggo, silakan dicoba.

Raja Resep

Bahan

  1. 2 sendok makan kopi
  2. 2 potong jahe ukuran jempol
  3. gula aren secukupnya (tergantung selera)
  4. 3 gelas air

Cara membuat

  1. bakar jahe, kemudian memarkan
  2. rebus air dan masukkan semua bahan
  3. tunggu hingga mendidih dan air tersisa 1 gelas
  4. saring dan siap untuk dinikmati

Resep Jatmiko

Bahan

  1. 4 sendok teh kopi instant
  2. 750 ml air
  3. 150 gr jahe
  4. 1 batang (5 cm) kayu manis
  5. 2 lembar daun pandan (diikat)
  6. 250 gr gula
  7. krim cair atau kocok secukupnya

Cara membuat

  1. bakar jahe, lalu memarkan
  2. rebus air bersama jahe, kayu manis, daun pandan, dan gula sampai mendidih.
  3. saring air, taruh di gelas.
  4. tambahkan kopi instant, aduk sampai rata
  5. tuangkan ke dalam cangkir, sajikan dengan krim cair atau kocok.

Resep Langsung Enak

Bahan

  1. 1 liter air
  2. 5 sendok teh kopi instant
  3. 150 gr jahe
  4. 2 batang serai
  5. 1 batang (5 cm) kayu manis
  6. 3 lembar daun pandan (diikat)
  7. gula (sesuai selera)

Cara membuat

  1. bakar jahe, lalu memarkan
  2. memarkan serai
  3. rebus air bersama jahe, serai, kayu manis, dan daun pandan sampai mendidih.
  4. saring air, taruh di 5 gelas.
  5. tambahkan kopi instant dan gula, aduk sampai rata

Resep Lereng Merapi

Bahan

  1. 10 cm jahe segar
  2. 2 batang serai
  3. 2 batang cengkeh
  4. 2 sendok makan kopi
  5. 3 sendok makan gula pasir
  6. 500 ml air

Cara Membuat

  1. bakar jahe, lalu memarkan
  2. memarkan serai
  3. rebus air bersama jahe, serai, cengkeh sampai mendidih.
  4. saring air
  5. tambahkan kopi dan gula, aduk sampai rata

Tuesday, February 21, 2012

Mencuci Bantal

Judul yang terasa aneh, mencuci bantal, atau aku saja yang ga biasa dengan aktivitas mencuci bantal. Sering berpikir, kira-kira bantal bisa dicuci ga ya? Cukup penasaran juga, karena bantal klo sudah lama suka berdebu, kadang kena noda iler, ompol, atau yang lain. Ga sengaja baca artikel di Kompas, ternyata bantal bisa dicuci. Belum dibuktikan sih, tapi ga apa-apa disimpan di blog ini jika suatu saat sedang mood untuk nyuci bantal.

Mencuci

Cara mencucinya memang seperti ketika mencuci pakaian biasa. Masukkan bantal ke dalam mesin cuci. Gunakan deterjen yang ringan dan air hangat, lalu atur agar mesin berputar secara halus saja. Setelah bantal selesai dicuci, lalu bilas dua kali untuk memastikan deterjen sudah benar-benar terlepas dari bantal. Jangan meremas bantal untuk membuang airnya, karena akan membuat bantal berubah bentuk.

Mengeringkan

Sebaiknya Anda langsung mengeringkan bantal, untuk mencegahnya berbau. Anda bisa langsung menjemur bantal dengan menggantungnya di tali jemuran. Namun bantal justru akan menggembung ke bentuk aslinya jika dimasukkan ke dalam pengering. Gunakan pengaturan panas rendah. “Saya biasa memasukkan bola tenis bersih ke dalamnya, karena akan membantu menggembungkan kembali bantal tersebut," ujar Morgan.

Setelah itu keluarkan, remas sedikit bantal untuk merasakan apakah sudah benar-benar kering. Jika masih sedikit lembab, masukkan kembali ke pengering.

Mengenal Huruf untuk Anak

Saya akan coba mengulas teknis seputar mengenal huruf untuk anak, usia dini, yaitu TK sampai kelas 3. Kebetulan saat ini saya menghadapi kasus yang nyata, anak saya seusia tersebut. Referensi saya dari berbagai sumber, jadi bukan dari pengamatan sehari-hari. Justru tulisan ini nantinya mungkin akan saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Fokus untuk anak usia TK sampai 3 tahun adalah membantu mereka untuk belajar calis (membaca dan menulis). Mengenal huruf tidak berarti hanya bisa membaca tulisan, namun harus mengerti arti dari tulisan. Pengenalan juga berarti anak harus kritis terhadap apa yang dibaca atau didengar. Juga harus bisa mengkomunikasikan apa yang dipikirkan secara efektif melalui percakapan, tulisan, dan media lain.

Secara lebih luas, pengenalan huruf adalah tentang bagaimana cara berkomunikasi di lingkungan sosial. Pengenalan huruf ini bisa membuka keberhasilan di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Waktu yang sangat bagus untuk belajar calis adalah di waktu sangat muda. Jangan hanya mengajarkan teknik membaca, namun ajaklah anak untuk bertukar pikiran mengenai ide yang ada di pikiran anak.

Berikut ini adalah tahapan dalam belajar membaca dan menulis:

  1. sebelum anak mulai belajar calis, maka:
    • mempelajari kata-kata dengan bermain kotak-kotak yang ada hurufnya, melihat buku bergambar, bermain magnet kata, dll.
    • mempelajari kata-kata dari lagu, sajak, rambu lalu lintas, dan logo pada kemasan makanan.
    • mempelajari tentang buku cetak, dimana sebuah cerita dimulai sampai berakhir.
    • menyukai buku dan mencoba untuk membacanya.
    • mulai mengerti bahwa pikirannya bisa dituangkan ke dalam buku menggunakan gambar, simbol, dan huruf.
    • mulai berperilaku seperti pembaca, sebagai contoh memegang buku dan pura-pura membaca.
    • mulai bertingkah seperti penulis, memegang pensil dan pura-pura menulis.
    • menggunakan gambar dan ingatannya untuk bercerita.
  2. ketika anak pertama kali belajar calis, maka:
    • menyadari bahwa orang-orang menceritakan sesuatu lewat tulisan
    • mulai tertarik ketika diminta untuk membaca
    • mulai mencocokkan kata-kata yang diucapkan dan yang ditulis dan melihat hubungan antara bunyi dan huruf.
    • mencoba untuk membaca, dan mengucapkan dengan keras kata yang dibacanya.
    • mengerti bahwa gambar bisa membantu mengartikan kata
    • mencoba untuk menulis, misalnya menggunakan gambar, simbol yang mirip huruf, menulis kelompok huruf acak, menulis kata dengan huruf dan memberi spasi diantara kata.
    • mengerti bahwa menggambar dan menulis berbeda.
  3. ketika anak belajar calis hal-hal sederhana, maka:
    • lebih percaya diri dalam menggunakan berbagai metode, seperti isyarat visual untuk mengidentifikasi kata di dalam tulisan
    • mengenali beberapa kata dan mencoba untuk mencoba membaca kata baru
    • menulis kalimat sederhana, menggunakan huruf nyata, spasi antar kata
    • menikmat menulis dan tertarik menulis dengan cara yang berbeda-beda, misalnya menulis daftar belanja, SMS, kartu ucapan, dan label
    • mulai merencanakan, merevisi, mengedit beberapa tulisan
  4. ketika anak sudah lancar calis, maka:
    • mengidentifikasi dan mengartikan kata-kata ketika membaca dengan cara yang bervariasi
    • menghubungkan ide dan pengalaman di dalam buku dengan pengetahuan dan pengalamannya
    • bisa memperkirakan kejadian di dalam cerita
    • bisa mengerti bahwa membaca dan menulis itu hal baik, dan memiliki inisiatif untuk membaca dan menulis untuk tujuannya sendiri
    • menggunakan berbagai strategi untuk mengeja kata-kata dengan benar
    • memilih kata-kata untuk menulis kalimat dan mengorganisasikan kalimat dalam sebuah paragraf.
    • menggunakan berbagai macam cara untuk merencanakan, merevisi, dan mempresentasikan tulisannya sendiri.

Bagi anak, belajar membaca bisa dimulaa dengan mendengarkan orang tua membaca cerita atau koran dengan keras. Proses belajar calis bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di sekolah. Orang tua perlu mendorong dan memberi semangat anak untuk belajar. Hindarilah untuk membandingkan kemampuan calis anak dengan anak lainnya. Belajar calis tidak mesti mudah, dan anak perlu tahu bahwa setiap orang belajar dengan kecepatan yang berbeda.

Bebeapa tips berikut bisa dilakukan selama proses pembelajaran calis:

  1. Ajaklah anak untuk bicara, diskusi.
  2. Buatlah calis menjadi kegiatan yang menyenangkan.
  3. Membaca harus rutin setiap hari.
  4. Ngobrol tentang buku
  5. Anak membaca dengan keras dan dengarkan
  6. Berilah contoh-contoh pada anak

Monday, February 20, 2012

Jalan-Jalan ke Kediri

Pada hari Jumat, 17 Feb 2012 kami sekeluarga berencana pergi ke Kediri. Kediri adalah tempat yang penuh kenangan bagi kami, dan marvelous bagi anak kami, khususnya Ardan. Sebenarnya maksud utama bukan jalan-jalan, tapi mengurusi rumah yang sudah tidak dikontrak lagi. Rencana bersih-bersih rumah dan mencari pengontrak baru. Rencana lain yang cukup penting untuk mengenang masa lalu adalah:

  • membeli roti goreng di jl HOS Cokroaminoto, depan pasar Pahing yang hanya buka malam hari. Roti goreng ini menjadi favorit kami pada masa lalu, karena rasanya yang gurih, kenyal, dan tidak keras walau sudah dingin.
  • membeli ronde di jl HOS Cokroaminoto juga, sebelum pasar Pahing. Ronde paling enak menurut kami, racikannya sungguh pas, apalagi klo diminum di tempat.
  • membeli pecel bu Benny, yang sudah tersohor, bahkan pernah masuk Trans7.
  • membuat pentol bakso di gilingan bakso Setono Bethek. Pentol ini rencana akan diberi telur puyuh di dalamnya.
  • membeli soto Bok Ijo yang tempatnya ga di terminal, tapi di tempat Pak Juki, barat prapatan Kemuning.
  • main ke Goa Selomangleng.

Itulah rencana-rencana kami sebelum berangkat kesana. Kami berangkat naik kereta api Rapih Dhoho dari stasiun Sepanjang, jam 16.00. Ternyata kereta terlambat sampai jam 16.45 baru berangkat. Perjalanan cukup nyaman, ukuran kenyamanan tentu jika anak-anak senang dan bisa menikmati, bukan ukuran kami orang dewasa. Sampai di Kediri kira-kira jam 17.25, kami sudah dijemput ibu, bapak, dan Revan yang sudah disana duluan. Dari stasiun, kami langsung menuju rumah Kediri, tanpa mampir kemana-mana, karena kondisi badan sudah capek.

Esoknya kami mulai bersih-bersih rumah, kondisi rumah sangat kotor. Kira-kira pukul 09.30 kami selesai bersih-bersih dan berangkat ke Sri Ratu. Sampai di Sri Ratu masih agak sepi, jadi bisa dapat parkir di tempat yang dekat dengan pintu masuk. Kami langsung menuju ke lantai 5, tempat mainan anak-anak.

Kira-kira pukul 13.00 kami sudah puas keliling ke Sri Ratu. Hasilnya adalah capek, sehingga kami sudah bertekad “hindarilah mall, jika masih ada pilihan lain”. Alangkah enaknya jika main ke tempat yang alami seperti Selomangleng, Pagora, alun-alun. Setelah dari Sri Ratu, langsung menuju ke toko kacamata Soetikno di Rembang (bukan Rembang, Jateng ni). Disana service kacamata mama dan ibu. Cukup lama, kira-kira jam 15.00 baru kelar.

Selanjutnya menuju ke Pak Dul tukang mas buat matri kacamata yang ga bisa dibetulkan di tempat pak Soetikno. Disana kacamata ditinggal, baru bisa diambil esok hari. Sambil menunggu ke pak Dul, anak-anak membeli batagor di depan pasar Setono Betek.

Kira-kira pukul 16.00 kami sampai di rumah. Capek banget rasanya, males mau mandi, padahal airnya seger banget.

Esok harinya, tanggal 19 Feb 2012, kami menerima calon pengontrak rumah, anak mahasiswa dari Kupang. Ada 6 orang yang akan menempati rumah ini, luar biasa kan. Ga nyangka klo rumah itu akhirnya jadi kontrakan mahasiswa, ga kebayang gimana nanti jadinya. Rupanya semua-nya setuju, kecuali aku dan bapak yang agak kurang sreg. Tau sendiri kan, aku juga pernah mahasiswa, gimana klo memperlakukan rumah. Semoga saja nantinya tidak seperti bayanganku, mereka anak-anak mahasiswa STIKES, calon perawat, seharusnya sih bisa jaga kebersihan dan kelakuan.

Pukul 14.00 kami berangkat ke Surabaya, kali ini naik bus. Oh ya, sebelumnya kami mampir ke warung soto Pak Juki. Tercapai juga nih keinginan makan soto khas Kediri. Rasanya? Kok jadi biasa ya menurutku, mungkin karena waktu itu sudah kenyang dan ibu masak banyak. Menurutku tetap masakan ibu, khas Prigi yang paling enak.

Sampai di Surabaya pukul 18.15, masih agak sore dan ga terlalu capek. Makan malam dengan menu teri goreng plus sambel trasi.

Itulah cerita jalan-jalan ke Kediri yang menyisakan banyak rencana yang tidak terlaksana. Mungkin bakalan lama tidak kesana lagi. Hmmm…

Thursday, February 16, 2012

Penjara Hati

Penjara adalah benteng/batas yang membelenggu jiwa. Itulah makna penjara yang sebenarnya. Ketika manusia terkekang untuk berkarya, berekspresi, berpendapat, maka sesungguhnya dia ada di dalam penjara. Ketika manusia takut akan sesuatu/akan melakukan sesuatu/melangkah maka sesungguhnya dia terpenjara. Ketika manusia terpaksa melakukan sesuatu/tidak ikhlas melakukan sesuatu, maka sesungguhnya dia terpenjara. Ketika manusia sombong, maka dia menciptakan penjara bagi dirinya sendiri.

Sesungguhnya manusia diberi kemampuan, akal pikiran untuk membebaskan diri dari penjara. Setiap manusia sebenarnya “mampu”, ini sudah dibuktikan sejak jaman nenek moyang. Namun, penyakit hati-lah yang membuat manusia “tidak mampu” untuk keluar dari penjara. Selain itu, dengan terlalu banyak ilmu dunia, namun kurang ilmu agama juga kadang-kadang membuat manusia kebanyakan berpikir, pertimbangan, tidak tawakal, sehingga terciptalah ketakutan, kekawatiran, yang secara tidak langsung menjadi “penjara” bagi dirinya sendiri.

Pencipta

Penjara diciptakan oleh pikiran dan perasaan manusia sendiri.

Menghilangkan Penjara Hati

Ada banyak nasehat, sumber, dan ritual yang bisa dilakukan untuk menghilangkan penjara hati yang berasal dari beberapa sumber. Ada yang bersumber dari agama, kawruh, adat, dan bahkan pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kalau boleh ditarik benang merah (sementara saja), jalan-jalan tersebut intinya kesabaran. Sabar itu gampang diucapkan, namun susah untuk dilaksanakan. Pelaksanaan sabar juga butuh ilmu, karena sabar adalah perilaku dasar, artinya aplikasi sabar itu berbeda-beda untuk setiap situasi dan kondisi. Misalnya, ketika kita diludahi oleh orang, seharusnya apa yang harus kita lakukan? Ya... hal yang disarankan oleh para penasehat biasanya adalah "sabarlah". Nah, sabar disini bisa diterjemahkan sebagai berikut:

  • Kita tidak melakukan apa-apa, tidak membalas, hanya diam saja.
  • Kita balas meludahi orang tersebut.
  • Tidak dibalas, namun memberi nasehat kepada orang tersebut.

Silakan diterjemahkan sendiri arti "sabar" pada kasus diatas tersebut. Tentu masing-masing orang akan bereaksi berbeda. Tergantung apa reaksinya, namun menurut saya adalah harus menahan diri, jangan terpancing emosi. Namun, tentu sulit jika dihadapkan pada persoalan tersebut.

Cara menghilangkan penjara adalah sebagai berikut:

  • Berpikirlah sederhana. Ikutilah sabda Rasulullah, makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Statement ini mengandung 2 makna, yaitu perintah untuk makan dan perintah untuk berhenti makan. Ketika perut merasa lapar, maka manusia diperintahkan untuk makan. Perlu diingat juga, waktu makan sebaiknya berniat untuk melaksanakan perintah ini, untuk menjaga kesehatan, maka Insya Allah akan barokah. Dan sekiranya sudah cukup, maka berhentilah makan. Begitu juga dengan roda kehidupan manusia, yang menyerupai siklus pola makan ini.
  • Bersyukurlah. Kata syukur ini sangat sederhana, hampir setiap hari kita dengar, apa itu di percakapan sehari-hari, apalagi di media. Hanya saja, implementasi-nya juga sulit.